selamat datang

Minggu, 05 Februari 2012

Sebuah Proses, Rencana, dan Tindakan

Sejatinya dua pasangan yang berkomitmen  untuk  menjalin  hubungan, pasti  memiliki rencana yang akan  dijalani ke depan. Entah itu rencana jangka panjang atau pun jangka pendek. Begitupun dengan kami..


Pada awal berhubungan terus terang saya sudah berpikir dan memutuskan bahwa dia yang akan menjadi masa depan saya. Tidak tahu kenapa saya seyakin itu. Mungkin sebuah  hal yang lumrah ketika awal berpacaran kita membayangkan rencana yang indah berdua. Dan bisa di bilang itu sebuah euforia awal berpacaran. Apakah saya juga merasakan seperti itu? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas-jelas saya rasakan, saya tidak pernah seyakin ini ketika saya berkomitmen.


Saya belum tahu sifat dia. Saya belum tahu kebiasan-kebiasaan dia. Saya belum tahu keluarga dia dan teman-teman dia. Karena kita kenal bukan sebagai teman. Kita kenal dengan cara yang unik dan sedikit tidak biasa buat saya pribadi. Kenapa tidak biasa? Karena saya adalah orang yang tertutup sebenarnya. Saya senang berteman, tapi saya tidak punya banyak teman dekat, apalagi teman dekat seorang perempuan. Maka saya berani katakan bahwa cara kami berkenalan sangat tidak biasa buat saya. Karena cara seperti itu memang bukan kebiasaaan saya. 




Saya sadari, kami sangat membutuhkan penyesuaian, pemahaman, dan saling toleransi satu sama lain. Tapi itu tidak membuat keyakinan saya luntur. Saya mencintai dia. Menurut saya akan lebih mudah bagi saya apabila semuanya sudah dilandasi rasa cinta. Kalau pun ada sedikit ketidaksesuaian atau kesalahpahaman, apabila sudah ada akar yang kuat, rasa toleransi itu semakin mudah dan besar. Itu pendapat saya, boleh setuju boleh tidak hehe..


Satu bulan, dua bulan , tiga bulan, kami berproses. So far so good. Sejauh ini boleh dibilang kita adalah pasangan yang bahagia. Poin awal yang saya dapatkan adalah, keputusan saya tidak salah!!!


Saya tidak tahu seperti apa, sebuah hubungan yang ideal, sebuah hubungan yang sehat, atau sebuah hubungan yang harmonis. Yang jelas  saya terus belajar, selalu melihat.  Apakah itu dari pengalaman saya sebelumnya ataupun pengalaman orang lain. Saya tipe orang yang tidak peduli dengan masa lalu karena yang saya pedulikan adalah masa sekarang. Karena saya adalah masa depan. Saya adalah yang terbaik untuknya dan dia yang terbaik buat saya, tidak ada yang lain. Itu saja yang jelas.


Dalam proses tersebut saya utarakan apa yang menjadi visi, cita-cita, dan harapan saya. Dan perlahan-lahan saya masukan dia dalam visi, cita cita, dan harapan saya. Visi saya tidak hebat, cita-cita saya tidak hebat, begitupun harapan saya. Tapi akan menjadi hebat apabila visi, cita cita, dan harapan saya tersebut terdapat dia yang ikut terlibat didalamnya. Semoga!!!


Empat  bulan berlalu, kami semakin berproses, berproses ke arah yang positif. Saya semakin mencintai dia. Saya tidak mengerti  tentang konsep jodoh, tapi saya punya hati, punya rasa yang bisa memberikan keyakinan  bahwa dia adalah jodoh saya... *aiiiiiihhhh mateeeeee...

Di bulan ke empat  keyakinan saya semakin besar, sehingga saya berani untuk meminang dia. Poin yang saya dapatkan: keputusan saya di awal adalah tepat!!!


Lima bulan, enam bulan kami saling menemukan kenyamanan yang lebih dan semakin nyaman. Saya tidak akan membahas konflik konflik kami, bukan berarti  kami tidak pernah berkonflik. Dalam proses ini kami berkonflik juga, tapi konflik-konflik itu bias semuanya oleh cita cita dan harapan besar kami untuk ke depan. Keyakinan saya membuahkan hasil yang positif. Kami semakin diberikan kemantapan hati. Di bulan keenam menuju bulan ke tujuh ini  saya  yakin  untuk melamar dia. Yakin untuk mempersunting dia. Ini bukan sebuah ikatan yang mengikat. Ini adalah keseriusan saya, keyakinan saya, dan kebulatan tekad untuk menjadikan dia sebagai masa depan saya, menjadikan dia sebagai istri saya.. Amin..

Ditulis oleh M. Teguh Gumilar / Togir Mohamad / @togirooij menjelang hari pertunangan kami, Sabtu 10 September 2011:D